Home > Prospek ekonomi > Menerawang Arah Ekonomi 2011

Menerawang Arah Ekonomi 2011

December 23rd, 2010 Leave a comment Go to comments

Majalah The Economist memberi judul yang cukup eye-catching pada terbitan 17 Desember 2010 lalu. Majalah tersebut menampilkan judul “Three-way Split,” untuk menggambarkan prospek ekonomi dunia setahun mendatang. Suatu kesimpulan yang cukup sahih menilik apa yang sedang dan kemungkinan akan terjadi pada tiga kekuatan ekonomi dunia –Eropa, Amerika Serikat (AS) dan Emerging Markets (EM)–.

Sejauh ini, senjata kebijakan moneter longgar yang diterapkan Eropa dan AS relatif belum memberikan hasil yang memuaskan.  Kebijakan suku bunga rendah dan kebijakan cetak uang (quantitative easing/QE) dalam dua tahun terakhir tidak mampu mendorong percepatan inflasi dan menurunkan angka pengangguran. Per November 2010, angka pengangguran di kedua wilayah tersebut masih di atas 9,8%, sementara inflasi juga sangat rendah (di bawah 1,9%).

Di sisi fiskal, AS menerapkan kebijakan yang berlawanan dengan apa yang dilakukan Eropa. Di Eropa, ruang gerak fiskal sudah sangat terbatas. Hanya Jerman yang kelihatannya masih cukup leluasa untuk menaikkan belanja fiskalnya. Sementara banyak negara lain di Eropa sudah terlampau tinggi stok utang publiknya sehingga berpotensi default (terutama negara-negara PIIGS: Portugal, Irlandia, Italia, Yunani dan Spanyol). Sebab itu, negara-negara PIIGS mulai melakukan pengetatan anggaran (austerity programs). Menurut pandangan saya, program austerity tersebut justru sangat riskan karena dapat memperlambat proses pemulihan ekonomi di Eropa.

Sementara itu di seberang Atlantik, AS malah berusaha memperbesar belanja fiskalnya. Pada 17 Desember 2010, parlemen AS pada akhirnya setuju untuk memperpanjang durasi program stimulus fiskal hingga dua tahun mendatang (sebelumnya pernah diundangkan pada era President Bush). Ada harapan besar bahwa kebijakan potongan pajak tersebut dapat mendorong kebangkitan ekonomi AS dalam beberapa kwartal mendatang.

Untuk membiayai program stimulus fiskal tersebut, FED memutuskan kebijakan eksperimental yang sering disebut sebagai QE2 (FED beli T-notes di pasar sekunder sebesar US$600 milyar dalam 8 bulan). Kebijakan ini kemungkinan juga dipilih dalam rangka antisipasi jika minat asing dalam membeli T-notes yang diterbitkan pemerintah AS berkurang.

Pilihan kebijakan ini relatif murah ongkosnya bagi pemerintah AS. Biaya bunga yang harus dibayar pemerintah AS sangat minim, karena tingkat suku bunga yang sangat rendah. Sementara itu, T-notes yang ditumpuk FED dapat dijual kembali (menyerap uang beredar), ketika tekanan inflasi mulai terasa.

Di sisi lain, Eropa akan lebih sulit melakukan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal ala FED dan US Treasury Department seperti diuraikan di atas. Kebijakan fiskal Eropa belum sinkron dan terintegrasi. Sejauh ini, tidak ada kesepakatan politik yang solid dengan sangsi tegas dalam hal koordinasi kebijakan fiskal di antara negara-negara Eropa.

Hal ini terbukti dengan banyaknya negara Eropa yang melanggar Maastricht Treaty yang mensyaratkan defisit anggaran maksimal sebesar 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga berbuntut pada krisis utang di negara-negara PIIGS. Itu salah satu alasan mengapa saya memprediksi ekonomi Eropa akan pulih lebih lambat dibandingkan dari ekonomi AS, terutama bila koordinasi atau unifikasi kebijakan fiskal gagal dilakukan di Eropa.

Ancaman perangkap likuiditas

Saya berpendapat pilihan AS untuk melanjutkan program stimulus fiskalnya adalah pilihan yang tepat, karena sejauh ini mekanisme transmisi kebijakan moneter FED tidak terlalu efektif dalam menggerakkan sektor riil. Data-data ekonomi hingga bulan November 2010 menunjukkan sinyal yang kuat masuknya  ekonomi AS ke dalam perangkap likuiditas (liquidity trap) –fenomena dimana  suku bunga rendah tidak mampu menstimulus kenaikan permintaan kredit–.

Hilangnya efektifitas kebijakan suku bunga rendah FED jelas terlihat dari permintaan kredit yang masih sangat kecil pada periode 2009-2010. Pelaku usaha dan masyarakat tampaknya masih berupaya melakukan deleveraging dengan meningkatkan tabungan dalam rangka memperbaiki neraca keuangannya masing-masing. Per awal Desember 2010, total kredit AS hanya tumbuh 2%, jauh di bawah pertumbuhan kredit sebelum krisis yang berada di kisaran 10%.

Lemahnya pertumbuhan kredit ditambah lagi dengan masih tingginya kredit macet menyebabkan rendahnya pertumbuhan jumlah uang beredar (M1 hanya tumbuh 3,2% per Oktober 2010, bandingkan dengan pertumbuhan pra-krisis yang mencapai 9%). Akibatnya, tingkat inflasi AS relatif rendah, sementara pertumbuhan ekonomi juga cenderung lamban.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya pertumbuhan kredit di AS. Pertama, tingkat kepercayaan perbankan terhadap soliditas neraca debitur masih minim. Perbankan khawatir akan solvabilitas debitur, sementara nilai kolateral juga cenderung menurun akibat kecendrungan deflasi akhir-akhir ini (terutama pasar properti). Akibatnya, perbankan AS cenderung lebih banyak menaruh likuiditasnya di FED –mulai Oktober 2008, ekses reserve yang ditempatkan perbankan di FED diberikan imbal hasil. FED berharap dapat dengan mudah mengontrol inflasi dengan menyesuaikan tingkat bunga reserve–.

Kedua, pasca krisis perbankan yang mendorong lonjakan kredit macet, bank biasanya akan lebih fokus untuk memperbaiki permodalannya (ini juga terjadi di Indonesia pasca krisis perbankan 1998). Selain itu, kebijakan penguatan modal juga didorong oleh pengumuman Bank International Settlement (BIS) baru-baru ini yang mewajibkan perbankan untuk meningkatkan modal, terutama tier 1 (Basel III).

Dampak positif bagi Indonesia

Indonesia memperoleh momentum pertumbuhan ekonomi di tengah prospek pelonggaran moneter (easy money policy) AS, Jepang dan Eropa yang diperkirakan masih berlangsung hingga 2011. Kebijakan suku bunga rendah yang diambil ketiga kekuatan ekonomi tersebut akan memicu limpahan dana ke negara-negara EM, termasuk Indonesia. Limpahan dana tersebut timbul akibat aksi carry trade yang memanfaatkan rendahnya suku bunga di AS, Eropa dan Jepang untuk diinvestasikan di EM yang imbal hasil asetnya relatif lebih tinggi.

Sejauh ini, perkembangan global masih memberikan dampak positif bagi Indonesia. Indikator-indikator makro ekonomi, terutama indikator sektor riil terus menunjukkan perbaikan. Hingga Q3-2010, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) terus membaik, tumbuh 5,8% YoY, terutama didorong pertumbuhan sektor konsumsi domestik, investasi dan ekspor. Selain itu, surplus perdagangan juga terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, –surplus perdagangan diperkirakan mendekati US$20 milyar pada tahun 2010. Cadangan devisa juga mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, tercatat sebesar US$92,7 miliar per November 2010.

Jadi sebenarnya, tidak ada alasan bagi investor untuk tidak berinvestasi di Indonesia karena ekonomi di negara-negara maju kelihatannya belum akan pulih sepenuhnya hingga tahun depan. Selain itu, potensi peningkatan peringkat utang Indonesia menjadi investment grade juga menjadi katalis untuk tetap bullish terhadap ekonomi Indonesia.

Namun, beberapa risiko eksternal dan internal tetap harus diwaspadai, terutama jika ada kejadian yang tidak terduga sebelumnya (black swan event). Risiko eksternal pertama adalah potensi berlanjutnya perang mata uang yang dapat menimbulkan volatilitas mata uang dunia. Tingginya volatilitas mata uang yang bisa bergejolak naik-turun lebih dari 10% dalam setahun tentunya dapat menimbulkan ketidakpastian usaha di sektor riil.

Kedua, risiko gagalnya kebijakan stimulus fiskal dan quantitative easing AS dalam menggerakkan perekonomiannya, sehingga resesi kembali terjadi (double dip recession). Ketiga, risiko berlanjutnya krisis fiskal di Eropa dan meningkatnya suhu politik di Timur Tengah maupun di semenanjung Korea. Peningkatan risiko tersebut biasanya akan memicu investor global untuk mengalihkan investasinya ke aset yang di anggap aman (perceived safe assets) seperti US$ atau komoditi emas.

Sebaliknya, pemulihan ekonomi global yang lebih cepat dari perkiraan juga menimbulkan risiko pembalikan arah investasi dari Indonesia ke negara maju. Kenaikan suku bunga patokan di negara maju dapat memicu pembalikan arus modal asing dari Indonesia. Apalagi jika Indonesia terlambat melakukan penyesuaian dalam kebijakan moneternya (behind the curve).

Dari sisi domestik, mundurnya kembali realisasi pembangunan infrastruktur dan rendahnya penyerapan anggaran juga harus diwaspadai. Indonesia sebenarnya dapat tumbuh pada kisaran potensialnya di level 7-8% tanpa ada potensi terjadinya overheating (lonjakan inflasi), jika pemerintah dapat mendorong pembangunan infrastruktur dan memperbaiki penyerapan anggaran.

Ancaman risiko domestik yang terakhir adalah rencana kenaikan harga-harga yang diatur pemerintah (administrative prices) seperti tarif listrik dan LPG serta rencana pembatasan konsumsi BBM. Namun, dampak rencana tersebut terhadap tekanan inflasi tampaknya tidak terlalu signifikan, karena pembatasan dilakukan secara bertahap sehingga tidak terlampau mempengaruhi prospek pertumbuhan 2011. Yang perlu lebih diwaspadai adalah kenaikan inflasi yang dipicu oleh peningkatan harga makanan. Pemerintah perlu mengantisipasi kenaikan harga pangan akibat gangguan cuaca dan peningkatan permintaan berbagai negara karena motif pre-cautionary.

Categories: Prospek ekonomi Tags:
  1. surghani
    December 27th, 2010 at 16:24 | #1

    Baca analisa Pak David sesuai dengan judulnya yakni dari awang2. Ya tak keliru.Namun klw saya saksikan Jakarta dan Bangkok sudah seperti Duren dengan Mentimun.Betapa tidak. Makanan Harian rakyat Bangkok masih berkisar Rp 7500- 12000/sekali makan kenyang. Ada Bus yang di beri tanda dan gratis bagi penumpang thai setiap hari.Juga KA gratis.Ada Subway (MRT)sudah berumur 5 tahun. Ada BTS KA 10 meter diatas tanah sudah 10 tahun jalan. Ada City Express yang menghubungkan Bangkok dangan Bandaranya setiap 5 menit 2 rel paralel. Biaya taksi lebih murah ketimbang Jkt. Tranport umur pake CNG, atawa LPG relatif bebas polusi ketimbang Jkt.Bisnis lwt dunia maya sudah berkembang. Parkir Gratis,Kaki Lima tidak di gusur2 walau diatur dan tertib,bersih. dan tak di kenai pajak. Toilet ada yang bayar dan ada yang gratis. Klw bayar cuma Rp 500 tidak Rp 1000 seperti di Jkt.Birokrasi tidak sulit spt Jkt.dan banyak lagi.Mudah2an penarawang Pak David tercapai. Klw belum jangan kuciwa.Kereta api bejing-Laos-Kamboja-Thai-KL-Sin 2012 operasi. paling lambat 2014.Air Asia akan menjaring penumpangnya dengan One Card Gandeng Thai Tekom,Celcom,dg MVNO yang sudah di miliki Air Asia di kawasan Asia.Hanya orang2 politik yang main politik.Rakyatnya tidak ikut2 politik.Mereka kerja sesuai profesinya.PM Razak pernah bilang dalam suatu Forum: Ada negara tetangga yang memiliki Pedoman Hidup yang luhur (Pancasila?)namun kondisi sekarang kritis karena tidak mengamalkannya.salam.

  2. Rico Jaya Mozat
    January 12th, 2011 at 03:11 | #2

    Sampai sejauhmana peranan dari aliran dana ‘hotmoney’ yg dampaknya telah terlihat senin kemarin yang ditandai dgn ‘berguguran’nya saham2 di BEI shingga IHSG berada d level 3400 atau turun sktr 5% dari level 3600, apakah ini sifatnya temporary atau adanya ekspektasi pasar yg negatif terhadap perekonomian Indonesia secara fundamental?
    Di lain pihak dari sisi internal masih perekomian Indonesia masih dihadapi sejumlah permasalahan, sperti infrastruktur, political risk yg cenderung meningkat lately serta ancaman gagal panen di sektor pertanian akibat pengaruh cuaca ekstrim yg pd giliran’a berdampak inflatoir..??
    Mohon komen’a pak.., salam.

  3. February 9th, 2011 at 03:12 | #3

    Analisa pak David luar biasa. Membuat kita ingin Indonesia buru2 bangkit dan negara yang dapat menciptakan harga pangan murah. Pertanian kita dibiarkan berjalan sendiri tanpa adanya bantuan yang signifikan. Petanipun tidak tahu apa target pemerintah. Cuaca, bukankah pemerintah dapat memprediksi apa yang terjadi. Banjir, Longsor dan lahar dingin karena kita udah sering mengalami. Pakelah analisa dan pengalaman. Jangan anggota dewannya sibuk dengan proyek untuk menumpuk kekayaan sendiri

  1. No trackbacks yet.