Archive

Archive for the ‘Kebijakan ekonomi global’ Category

Nasib Rupiah di kancah perang mata uang global

November 2nd, 2012 1 comment

“The dollar is our currency, but it’s your problem”

Kalimat di atas diucapkan John Connally, Menteri Keuangan AS pada tahun 1971, menanggapi banyaknya negara yang khawatir akan dampak depresiasi dollar terhadap fundamental ekonomi masing-masing.

Connally yang pada tahun 1963 terluka parah karena berada di mobil yang sama saat Presiden Kennedy terbunuh kurang-lebih menghadapi persoalan yang mirip dengan yang dihadapi Timothy Geithner akhir-akhir ini.

Ketika itu, AS harus menaikkan pagu utang dan defisit anggaran masing-masing sebesar US$50 milyar dan US$40 milyar. Neraca pembayaran dan neraca perdagangan AS sedang berdarah-darah. Buruknya situasi ekonomi juga menyebabkan pemerintah AS harus mengambil alih kewajiban (bail-out) perusahaaan senjatanya, Lockheed Martin yang diambang kebangkrutan.

Ujung-ujungnya, beliau pun menganjurkan Presiden Nixon untuk mengakhiri sistem Bretton Woods/kuasi standar emas (bank-bank sentral negara lain bisa menukarkan tiap US$1 yang dimilikinya dengan 35 ons emas) yang berlaku sejak 1934.

Peristiwa yang sering disebut sebagai Nixon Shock ini menandai jatuhnya kepercayaan pemegang dollar AS terhadap kemampuan pemerintah AS dalam menanggulangi persoalan tripple-deficit yang dialaminya (defisit neraca pembayaran, defisit neraca perdagangan dan defisit fiskal).

Mulai saat itu, Bank sentral AS (FED) tidak berkewajiban lagi untuk mengaitkan nilai mata uang-nya dengan emas. FED berhak untuk mencetak berapa pun uang yang diinginkannya. Alhasil, sektor riil pun terekspos pada risiko fluktuasi nilai tukar mata uang, dimana gejolaknya sudah memicu krisis di banyak negara.

Rentetan peristiwa di atas menunjukkan betapa pentingnya kebijakan macro dan microprudential terhadap kepercayaan pasar. Sejauh ini, persoalan tripple deficit di negara-negara maju hanya coba diatasi dengan  aksi cetak uang. Jika kebijakan eksperimental di atas tak berhasil, saya khawatir tatanan arsitektur finansial global akan kembali dipaksa untuk berubah radikal, sama seperti yang pernah terjadi tahun 1971.

Open-ended quantitative easing

Sejak krisis ekonomi 2008, bank-bank sentral dunia terus menggelontorkan likuiditas ke pasar keuangan. Di samping Jepang yang terus menggelontorkan stimulus, Bank Sentral Eropa (ECB) sudah mengumumkan rencana pembelian obligasi pemerintah negara-negara Eropa di pasar sekunder secara tak terbatas (Outright Monetary Transactions).

FED sendiri sudah mencetak $2 triliun uang baru (quantitative easing/QE) sejak 2008. Pada QE1 (Nov 2008 – Mar 2010), FED menggelontorkan $1,42 triliun, sementara pada QE2 (Nov 2010 – Jun 2011), likuiditas mengalir hingga $600 milyar. Mulai Sep 2012, FED melakukan QE sebesar $40 milyar/bulan yang sifatnya open-ended (durasi waktu dan besaran stimulus fleksibel tergantung perkembangan ekonomi).

Sejauh ini, kucuran likuiditas ini belum banyak berpengaruh ke sektor riil. Pengaruh dari QE open-ended terhadap pasar modal maupun harga komoditas sejauh ini, menurut pendapat saya masih sebatas sentimen.

Investor tampaknya masih menunggu efektifitas kebijakan otoritas moneter tersebut, termasuk mencermati perkembangan ekonomi Eropa dan resolusi isu fiscal cliff AS. Isu fiscal cliff AS (berakhirnya potongan pajak yang berlaku sejak era Bush) patut diwaspadai. Jika tak ada kesepakatan di parlemen, ekonomi AS dikhawatirkan akan kembali resesi, dimana pertumbuhan diperkirakan kembali melemah ke level -1,5% – -0,5% pada tahun 2013.

Selain itu, tak seperti saat QE1 dan QE2 diluncurkan, kini permintaan riil terutama dari China cenderung masih lemah. Aktivitas manufaktur China berjalan lamban, tercermin dari Purchasing Manager Index (PMI) China yang terus berada di zona kontraksi sejak Nov 2011. Lesunya sektor riil mendorong pemerintah China merevisi target pertumbuhan ekonominya tahun 2012 menjadi hanya sebesar 7,5%.

Sebagai catatan, China hanya menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7-7,5% dalam Rencana Pembangunan 2011-2015 (China’s 12th Five-Year Plan). Level pertumbuhan tersebut dianggap sudah dapat menyer